Menu

Selasa, 29 Januari 2013

Kemenangan yang Nyata



sebuah tulisan yang diambil dengan judul yang sama dari buku Lelaki Penggenggam Hujan bab 54

Sebagai seseorang yang dipimpin oleh orang lain, terkadang ada beberapa hal atau bahkan beberapa keputusan yang tidak kita pahami pada awalnya. Keputusan yang mungkin berbeda dengan sudut pandang kita, disadari atau tidak dapat menyebabkan    kedongkolan dan kekecewaan di hati jika kita tidak menerima keputusan tersebut dengan ikhlas. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kita belum memahami apa yang menjadi latar belakang keputusan tersebut atau kita tidak yakin dengan perkembangan yang akan terjadi di kemudian hari. Kisah berikut ini semoga bisa menjadi inspirasi kita semua dalam menghadapi suatu keputusan.

Sebelum perjanjian Hudaibiyah antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy, kaum muslimin sedang dalam perjalanan menuju Mekkah untuk melaksanakan umrah. Ribuan kaum muslimin bepergian dari Madinah menuju Mekkah dengan membawa hewan-hewan kurban dan pakaian umrah. Tidak biasanya, Qaswa sang unta Nabi sempat mengalami ‘mogok jalan’ di tengah-tengah perjalanan seolah-olah akan terjadi sesuatu yang menghambat kepergian mereka ke tanah suci. Di sisi lain, pihak Quraisy merasa terancam dengan kehadiran ribuan kaum muslimin. Meskipun utusan dari umat Islam telah memberitahukan bahwa kedatangannya mereka tidak untuk berperang, tetapi pihak Quraisy belum bisa meyakininya. Hingga akhirnya terjadilah perjanjian Hudaibiyah yang secara kasat mata memiliki banyak kerugian bagi pihak Muslim. Salah satunya, mereka harus kembali pulang ke Madinah dan tidak dapat melaksanakan umrah pada waktu itu. Di samping itu, pihak kaum Muslimin yang tidak mendapatkan izin dari walinya di Mekkah tidak diizinkan untuk menyebrang ke Madinah.

Senin, 28 Januari 2013

Lagi-Lagi Tentang Habibie-Ainun :)

Berbicara dengan romantisme dan keteladanan cinta dari presiden kita yang ketiga ini memang ga ada habisnya. Bagaimana tidak? Semenjak cerita cinta beliau yang berasal dari buku dan dibuat filmnya, semakin banyak saja orang-orang yang membahas kisah mereka. Mulai dari sosial media di dunia maya, tulisan-tulisan dan artikel mengenai beliau, obrolan masyarakat sekitar, sampai interview khusus dengan beliau di berbagai media televisi. Tentu hal ini merupakan suatu fenomena baru di negeri ini. Di tengah-tengah carut marutnya dunia perpolitikan dan bencana di Indonesia, masih ada harapan baru bagi masyarakat untuk terus bangkit dengan inspirasi dari kedua pasangan ini.

Film ini juga berhasil mencetak rekor baru di dunia perfilman, karena dalam waktu 2 minggu, sudah ada sekitar 2 juta orang yang menyaksikan film ini di bioskop. Pujian dan kekaguman pun diberikan kepada orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film tsb, tak terkecuali penulis cerita ini sendiri yaitu pak Habibie. Seiring dengan semakin lama beredarnya film ini, semakin sering pula kita menyaksikan pak Habibie 'beredar' di berbagai stasiun tv untuk menceritakan kisah di balik penulisan buku dan pembuatan film 'Habibie - Ainun'. Hampir semuanya berlokasi di ruang baca kediaman beliau di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan. Berbagai macam kisah diungkapkan oleh beliau. Dari kisah cintanya, dunia politik, sampai kisah di balik pembuatan pesawat terbang N-250. Dari sekian banyaknya tayangan wawancara ekslusif tentang beliau, ada satu acara yang sangat berkesan buat saya dan baru ditayangkan tadi malam. Acara itu ialah "Just Alvin" di Metro TV. Sebuah talkshow yg menjadikan sahabat para narasumber acara ini.

Berbeda dengan tayangan wawancara bersama pak Habibie lainnya yang hanya menampilkan pak Habibie seorang saja, di acara ini, kita juga bisa mendengar kisah di balik layar film "Habibie Ainun" lengkap dengan para pemain utamanya yaitu, Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Dari cerita mereka bertiga, banyak sekali info menarik yang jarang didengar oleh masyarakat. Salah satunya tentang kesan mereka ketika memainkan film ini dan proses pemilihan para pemainnya. Sama seperti film-film yang lainnya, mereka harus mengikuti audisi hingga bisa terpilih menjadi pemain. Yang menarik, ternyata Reza Rahadian baru terpilih menjadi tokoh utama di "last minute moment". Tadinya yang akan menjadi pak Habibie ada dua aktor yaitu Giring - Nidji yang menjadi pak Habibie muda dan Agus Kuncoro yang memerankan pak Habibie dewasa. Tapi karena kesibukan, maka terpilihlah Reza Rahadian di detik-detik terakhir sebelum syuting. Bunga Citra Lestari juga bukan merupakan pilihan utama tim produser karena sebelumnya Alya Rohali yang akan memerankan tokoh Ainun.

Rabu, 23 Januari 2013

Asuransi Syariah, Bukan Sekedar Investasi

"..dan tidak ada seorang pun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya esok hari dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia mati.." (QS Luqman :34)

Disadari atau tidak, dalam hidup ini sesuatu hal yang kita hadapi penuh dengan resiko, baik dalam kadar yang kecil maupun besar. Misalnya saja ketika kita bangun tidur dan menyiapkan makanan. Setiap piring yang kita sentuh tentunya memiliki resiko untuk jatuh ketika tersenggol sehingga piring itupun pecah. Itu baru dari hal kecil. Hal yang jarang kita sadari adalah bahwa setiap waktu yang kita lalui pada dasarnya merupakan waktu yang semakin sedikit menuju titik akhir kehidupan kita yaitu kematian. Seperti yang telah dijelaskan pada kutipan di atas pula, setiap orang tidak akan mengetahui di wilayah bumi yang mana ia akan mati.

Salah satu penyebab kematian di Indonesia selain karena faktor penyakit dan usia, penyebab lainnya adalah kecelakaan. Seperti yang telah kita ketahui, kecelakaan transportasi di Indonesia dapat terjadi karena berbagai faktor. Dari berjalan kaki hingga menaiki pesawat, hampir semuanya telah terjadi di negara ini dan menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang telah mengetahuinya. Semakin canggih alat transportasi yang digunakan, maka akan semakin besar dan kompleks pula resiko yang dimiliki. Jika kita berjalan kaki, maka resiko yang mungkin timbul adalah diserempet oleh mobil/motor. Sementara ketika kita menaiki pesawat, maka akan ada kemungkinan-kemungkinan dan resiko yang semakin banyak dalam tiap komponennya. Itu baru contoh resiko bagi jiwa kita. Masih banyak lagi contoh resiko yang ada pada barang-barang di sekitar kita. Seperti kebakaran rumah, kerusakan kendaraaan, kehilangan barang, dsb.

Upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari resiko tersebut tentunya dengan berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan resiko kerugian serendah-rendahnya. Salah satu caranya dengan mengikuti asuransi. Secara umum, asuransi bertujuan untuk mengelola resiko dan menanggung resiko secara bersama-sama antara peserta asuransi dan perusahaan penyedia jasa tersebut. Dengan mengikuti asuransi, tentunya usaha kita untuk mengurangi resiko yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Minggu, 20 Januari 2013

Sebuah Khayalan Tentang Negeri Kita di Masa Depan

tulisan ini repost dari note saya di Facebook. Momen yang pas saya review lagi ketika bencana banjir juga tengah terjadi di Indonesia saat ini. Smoga bisa menginspirasi temen2 yang mampir ke tulisan ini..Selamat membaca :)

Episode : Beberapa Saat Pasca Tsunami (di Istana Presiden)

Hey...!Ajuuudaaaaaaan!
Ya Pa!
Ada gempa dan Tsunami menimpa wilayah ujung barat Indonesia.Sangat Parah.

Cepat sekarang juga kamu kepasar Glodok! 
Lho koq, bencananya di Sumatra kok malah kesana?
Disana,
Ada ribuan chainblock (hoist) atau takel dipasar glodok
Ada ribuan generator set (genset mini) dipasar glodok
Ada ribuan meter sling (tali kawat baja) dipasar glodok.
Ada ribuan mesin pemotong pipa.
Ada ribuan mesin las,
Ada ribuan filter air, dll, ini daftarnya!
Beli dan kirimkan ketempat bencana. Cepaaat!

Mengangkut nya bagaimana Pa?
Aduh lambat sekali jalan fikiranmu, Ada ratusan helicopter milik pemerintah dan swasta, kalo perlu pinjem &
sewa ke negri tetangga, Kirim peralatan tersebut melalui udara. (1/2 hari harus sudah sampai). (Makanya punya pabrik kapal terbang jangan didemo melulu dan jangan ditutup! Ini mah malah dijadiin pabrik panci penggorengan....Kamu bisa naik panci ke tempat bencana! Udah tau negara kita kan negri kepulauan, malah ga sadar juga!)

4 JAM SETELAH BENCANA, 

Senin, 31 Desember 2012

Catatan Akhir Tahun 2012

Alhamdulillah..Allahu Akbar..tahun yang telah dinanti-nantikan selama 4 tahun terakhir, berakhir sudah. Benar-benar tidak terasa. Masih teringat di benak saya, 4 tahun yang lalu ketika memasuki dunia perkuliahan yang penuh warna-warni ini. Saya yang keluar dari zona nyaman ketika itu, jauh dari teman-teman putih abu-abu saya dengan segala pembelajaran dan kekeluargaannya. Suatu awal yang cukup berat bagi saya. Berada dalam lingkungan dengan berbagai perbedaan yang begitu jauh dengan tempat saya berasal membuat saya harus bisa menjaga prinsip dan berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya sebaik mungkin.

4 tahun pun berlalu. Tahun 2012 benar-benar menjadi "Tahunnya Kita" dimana saya dan teman-teman saya semasa putih abu dulu mayoritas telah berhasil berjuang dengan lingkungan perkuliahan masing-masing dan mendapat tambahan 2-3 huruf di belakang nama kita masing-masing. 2012 juga menjadi suatu tahun yang istimewa buat saya dan teman-teman saya di kampus karena telah berhasil menyusul sahabat seperjuangan kami dalam angkatan 2008 yang telah lulus duluan sesuai dengan program D3 yg mereka ambil. Bener-bener suatu kenangan tersendiri ketika kami mengingat angka 2012 ini :)

Sabtu, 29 Desember 2012

2 : #perjuangan #impian #keluarga #bulutangkis #Indonesia



“ini Bulutangkis, dan ini Indonesia, di mana impian dibawa ke dunia nyata”

Begitulah kalimat awal di halaman belakang novel ini yang menjadi tema utama dari seluruh cerita di dalamnya. Sebenernya terbitnya buku keduanya Donny Dirgantoro ini udah cukup lama, tapi karena baru-baru ini film 5 cm jadi topic utama para remaja Indonesia, maka makin banyak aja yang penasaran sama novel selanjutnya.

Bagi saya pribadi, tema kedua buku tersebut sama tapi sudut pandang dan eksekusinya yang beda. Sama-sama punya banyak quotes2 keren yang bisa jadi bahan renungan kita, sama-sama punya judul yang sangat singkat tapi dalem maknanya, dan sama-sama punya tema besar tentang impian dan Indonesia. Bedanya, kalau di buku 5 cm, novelnya dipenuhi sama potongan lagu dan quotes dari film2 favorit mereka berlima, di buku 2 ini banyak quotes dari sang pengarang sendiri di awal pembuka setiap bab. Klo di 5 cm, ceritanya tentang perjuangan meraih mimpi diantara persahabatan para tokoh utama, di buku kedua ini perjuangannya tentang seorang anak yang dipenuhi kasih sayang keluarganya. Jika kita banyak terkesima dengan alam Indonesia, khususnya jalur track menuju puncak Mahameru di buku pertama. Maka di buku kedua kita akan menemukan cerita perjuangan para atlet bulutangkis yang dapat menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia. Keduanya juga punya kisah tentang tragedy menjelang reformasi yang jadi suatu pelajaran berharga bagi para tokoh utama di novel tersebut.

Rabu, 26 Desember 2012

Habibie & Ainun : Sisi Lain dari Tokoh Bangsa yang Jenius

Satu lagi film Indonesia berkualitas yang mewarnai bioskop kita di penghujung tahun ini. Setelah film '5 cm' yang tayang lebih dulu pada tanggal cantik 12.12.12 lalu, sekarang giliran "Habibie Ainun" yang menghiasi layar lebar pada tanggal cantik juga 20.12.2012. Keduanya memberikan kesan tersendiri bagi saya. Banyak hikmah yang diambil dari kedua film yang berhasil menyadarkan para penontonnya untuk selalu berjuang dalam menjalani hidup.

Berbicara tentang sosok seorang Habibie, maka akan banyak bentuk kekaguman yang akan kita terima. Gimana nggak, beliau merupakan salah satu aset bangsa yang sangat menginspirasi generasi setelahnya. Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kehidupan beliau. Sebagai kepala negara, seorang ilmuwan yang ahli pesawat yang sangat cerdas, seorang negarawan, seorang ayah, dan juga seorang suami. Di balik berbagai perannya yang begitu luar biasa, film ini mengangkat sisi humanis dan romantisnya yang jarang diungkapkan ke publik.

Diadaptasi dari bukunya, film ini lebih fokus menceritakan tentang sisi romantisme seorang Habibie bersama Ainun. Dibuka oleh suasana sekolah Rudy (panggilan kecil Habibie) ketika sekelas dengan Ainun lalu dilanjutkan dengan adegan perkuliahan Habibie di Jerman dan pertemuan Habibie di rumah Ainun di Jalan Ranggamalela Bandung beberapa tahun setelahnya. Setelah itu, mereka pun menikah dan Ainun pun menemani suaminya yang tengah menyelesaikan studi S3-nya di Jerman.